Daerah

Kekeringan di Bangsalsari, 75 KK di Jember Kembali Dapat Pasokan Air Bersih

Lanskap pegunungan Taman Nasional Meru Betiri di Kabupaten Jember, Jawa Timur
Lanskap Taman Nasional Meru Betiri di Jember sebagai foto konteks wilayah; bukan dokumentasi distribusi air bersih di Bangsalsari.Sumber gambar: Maulana maulidyyah / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

Sebanyak 75 kepala keluarga di Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, kembali menerima pasokan air bersih. Distribusi 5.000 liter air menjadi penyaluran ketiga setelah asesmen menemukan keterbatasan sumber air bagi warga.

JEMBER — Sebanyak 75 kepala keluarga di Dusun Dukuh II, Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, kembali menerima 5.000 liter air bersih pada Selasa, 18 Agustus 2026. BPBD Kabupaten Jember mendampingi penyaluran oleh Perumdam Tirta Pandalungan ke empat tandon yang telah disiapkan untuk warga.

Penyaluran itu merupakan distribusi ketiga di lokasi tersebut. Asesmen Tim Reaksi Cepat BPBD Jember pada 28 Juli mencatat 30 kepala keluarga terdampak di RT 02 RW 02 dan 45 kepala keluarga di RT 03 RW 02 karena akses terhadap air layak konsumsi menurun.

Sumber air warga tidak lagi mencukupi

Warga sebelumnya mengandalkan jaringan pipa dari mata air di sungai pada perbatasan Desa Tugusari, sekitar dua kilometer dari permukiman. Laporan yang diperiksa menyebut debit aliran berkurang, air tidak selalu mencapai rumah warga, dan kondisi air sungai dinilai tidak layak untuk diminum sehingga hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.

Pemerintah Desa Banjarsari juga telah mencoba mencari sumber baru melalui pengeboran sumur, tetapi upaya tersebut belum menghasilkan air yang dapat dimanfaatkan. Karena solusi permanen belum tersedia, pengisian tandon secara berkala menjadi penyangga kebutuhan minum dan memasak warga.

Penanganan di Bangsalsari merupakan bagian dari respons yang lebih luas. Pemkab Jember pada 8 Agustus menyatakan telah menetapkan status siaga darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan melalui Surat Keputusan Bupati Jember Nomor 100.3.3.2/206/1.12/2026. Distribusi air saat itu juga berjalan di Pakusari, Silo, Jelbuk, dan Sumbersari berdasarkan laporan warga dan asesmen lapangan.

Mutu air dan kebersihan tandon perlu dijaga

Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan air minum yang aman harus tersedia ketika dibutuhkan dan bebas dari pencemaran. Air tercemar dan sanitasi yang buruk berkaitan dengan penularan diare, kolera, disentri, hepatitis A, tifoid, dan polio. Karena itu, volume bantuan perlu diikuti pengawasan mutu air serta kebersihan wadah dari sumber hingga digunakan di rumah.

WHO juga menyarankan wadah penyimpanan air ditutup. Langkah sederhana itu membantu mengurangi pencemaran dan tempat berkembang biak serangga. Warga dapat menyampaikan kekurangan pasokan melalui perangkat desa atau BPBD agar kebutuhan berikutnya dipetakan berdasarkan kondisi lapangan.

Dalam jangka lebih panjang, asesmen berkala diperlukan untuk menentukan apakah pengisian tandon masih memadai atau dibutuhkan pemulihan jaringan pipa dan sumber air baru. Distribusi darurat memenuhi kebutuhan segera, tetapi tidak menggantikan penyediaan sumber air yang aman dan berkelanjutan bagi permukiman terdampak.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.