Produksi Padi Jatim Diproyeksi 9,86 Juta Ton, Naik 5,13 Persen hingga Oktober
Potensi produksi padi Jawa Timur Januari–Oktober 2026 diperkirakan 9,86 juta ton GKG, naik 5,13 persen; WNR membandingkannya dengan basis produksi 2025 dan proyeksi nasional.
Potensi produksi padi Jawa Timur pada Januari–Oktober 2026 diperkirakan mencapai 9,86 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka yang disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 24 September itu naik 5,13 persen dibandingkan potensi periode yang sama pada 2025 sebesar 9,38 juta ton GKG.
Kenaikan tersebut berjalan bersama perluasan potensi luas panen. Untuk Januari–Oktober 2026, luas panen disebut mencapai 1,74 juta hektare, bertambah sekitar 76,19 ribu hektare atau 4,58 persen dari 1,66 juta hektare pada periode pembanding tahun sebelumnya. Potensi produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada periode yang sama diperkirakan 5,69 juta ton.
Bandingkan dengan angka tetap 2025
Angka Januari–Oktober 2026 perlu dibaca sebagai potensi, bukan angka final setahun. Sebagai pembanding yang sudah berstatus angka tetap, Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat produksi padi sepanjang 2025 sebesar 10,44 juta ton GKG dari luas panen 1,84 juta hektare. Produksi 2025 itu naik 12,60 persen dari 9,27 juta ton GKG pada 2024.
BPS juga mencatat produksi beras Jawa Timur untuk konsumsi pangan penduduk sepanjang 2025 mencapai 6,03 juta ton, naik dari 5,35 juta ton pada 2024. Perbandingan ini menunjukkan bahwa angka 9,86 juta ton untuk 2026 belum dapat disandingkan langsung sebagai hasil tahunan penuh karena cakupannya baru sampai Oktober dan sebagian masih berupa potensi.
Jatim tumbuh saat proyeksi nasional relatif datar
Konteks nasional memberi gambaran berbeda. Kementerian Pertanian, mengutip proyeksi BPS, menyebut produksi padi nasional Januari–Oktober 2026 diperkirakan 54,52 juta ton GKG, turun tipis 0,08 persen dibandingkan periode sama 2025. Produksi beras nasional pada rentang yang sama diperkirakan 31,41 juta ton dan juga turun 0,08 persen.
Dengan membandingkan dua skala tersebut, pertumbuhan potensi produksi Jawa Timur 5,13 persen berada di atas perubahan proyeksi nasional yang relatif datar. Namun perbandingan ini tidak berarti seluruh kenaikan nasional berasal dari Jawa Timur, karena angka provinsi dan nasional mencakup dinamika panen yang berbeda di masing-masing wilayah.
Apa artinya bagi pembaca
Bagi masyarakat, data ini terutama berguna untuk membaca arah ketersediaan produksi pangan dari salah satu sentra padi terbesar Indonesia. Kenaikan potensi luas panen dan produksi memberi sinyal kapasitas pasokan yang lebih besar, tetapi tidak otomatis menentukan harga beras di tingkat konsumen karena harga juga dipengaruhi distribusi, stok, kualitas, biaya logistik, dan kondisi pasar.
Angka Oktober masih dapat berubah setelah realisasi panen terkumpul. Karena itu, pembaruan BPS berikutnya menjadi rujukan penting untuk menilai apakah potensi 9,86 juta ton tersebut benar-benar terealisasi, sekaligus membandingkan hasil akhir 2026 dengan angka tetap Jawa Timur pada 2025.
Sumber primer penting
Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:
- ANTARA Jatim — potensi produksi padi Jawa Timur Januari–Oktober 2026 — diakses 24 September 2026 13.01 WIB
- BPS Jawa Timur — luas panen dan produksi padi 2025 angka tetap — diakses 24 September 2026 13.01 WIB
- Kementerian Pertanian — proyeksi BPS produksi padi nasional Januari–Oktober 2026 — diakses 24 September 2026 13.01 WIB
Sumber verifikasi redaksi
Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.
- ANTARA Jatim — potensi produksi padi Jawa Timur Januari–Oktober 2026 — diakses 24 September 2026 13.01 WIB
- BPS Jawa Timur — luas panen dan produksi padi 2025 angka tetap — diakses 24 September 2026 13.01 WIB
- Kementerian Pertanian — proyeksi BPS produksi padi nasional Januari–Oktober 2026 — diakses 24 September 2026 13.01 WIB