Nasional · Politik

Parlemen Remaja 2026: Tahap Wawancara Uji Kepemimpinan dan Karakter Peserta

Sekelompok pelajar bertemu anggota DPR dalam dokumentasi tahun 1995
Pertemuan pelajar dengan anggota DPR pada 1995 sebagai foto konteks pendidikan parlemen; bukan dokumentasi seleksi Parlemen Remaja 2026.Sumber gambar: Dewan Perwakilan Rakyat / Wikimedia Commons · Public domain — PD Indonesian Government

Parlemen Remaja 2026 memasuki tahap wawancara. Simak fokus seleksi, peran program DPR, dan hal yang perlu disiapkan peserta tanpa menganggapnya sebagai pengangkatan anggota DPR.

JAKARTA — Program Parlemen Remaja 2026 memasuki wawancara pendalaman profil kepemimpinan dan karakter pada 19–20 Agustus 2026. Situs resmi program DPR RI menyebut tahap itu dilakukan secara daring bersama tim penilai, setelah calon peserta melewati seleksi administrasi dan psikotes.

Wawancara diarahkan untuk mendalami potensi kepemimpinan, kemampuan komunikasi, integritas, dan karakter calon peserta. Keikutsertaan dalam tahap ini belum sama dengan penetapan sebagai peserta akhir; setiap calon tetap harus mengikuti urutan seleksi dan menunggu pengumuman melalui kanal resmi program.

Seleksi menilai lebih dari dokumen pendaftaran

Rangkaian administrasi, psikotes, dan wawancara memberi fungsi yang berbeda. Administrasi memeriksa kesesuaian persyaratan, sedangkan tahapan berikutnya memberi ruang bagi tim penilai untuk melihat cara calon peserta menyampaikan gagasan, merespons pertanyaan, dan menunjukkan kesiapan mengikuti kegiatan bersama pelajar dari berbagai daerah.

Bagi calon peserta, informasi jadwal perlu diperiksa langsung pada akun atau laman resmi. Mereka juga perlu memastikan koneksi internet, perangkat, identitas, serta waktu wawancara sudah sesuai. Langkah praktis itu penting karena pelaksanaan daring tetap menuntut kesiapan teknis, sementara substansi jawaban harus berasal dari pengalaman dan pandangan peserta sendiri.

Simulasi parlemen menjadi sarana belajar demokrasi

DPR menjelaskan Parlemen Remaja sebagai program edukasi demokrasi yang diselenggarakan sejak 2008. Peserta diberi pengalaman menjalankan simulasi penyusunan dan pembahasan rancangan undang-undang, rapat kerja komisi, kunjungan kerja, dan rapat paripurna. Kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran, bukan pemberian kewenangan legislatif kepada peserta.

Konteks itu selaras dengan kerangka kelembagaan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 yang mengatur MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Namun, undang-undang tersebut merupakan rujukan mengenai lembaga parlemen; rincian jadwal, persyaratan, dan hasil seleksi Parlemen Remaja tetap harus mengikuti pengumuman penyelenggara.

Nilai utama tahap wawancara bagi pelajar tidak berhenti pada kelulusan. Prosesnya juga melatih kemampuan menyusun argumen, mendengar pandangan berbeda, dan menjelaskan kepentingan publik secara bertanggung jawab. Hasil seleksi selanjutnya perlu dibaca hanya dari kanal resmi agar peserta tidak terkecoh informasi tidak terverifikasi.

Tahap wawancara penting karena peserta tidak hanya dinilai dari pengetahuan tentang parlemen, tetapi juga dari cara menyampaikan gagasan, memahami persoalan publik, dan menunjukkan sikap saat berdiskusi. Peserta sebaiknya menyiapkan pemahaman atas isu yang dipilih tanpa mengklaim mewakili keputusan resmi DPR.

Program ini bersifat edukatif dan tidak sama dengan proses rekrutmen anggota DPR. Nilai utamanya terletak pada pengalaman belajar mengenai fungsi legislasi, pengawasan, dan representasi, serta kesempatan melatih komunikasi publik secara bertanggung jawab.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.