Daerah

Korban Terakhir Banjir Bandang Solok Ditemukan, Operasi SAR Ditutup dan Pemulihan Dimulai

Jembatan sementara di Kabupaten Solok setelah kerusakan akibat banjir pada peristiwa sebelumnya
Foto konteks infrastruktur terdampak banjir di Kabupaten Solok pada 2025. Gambar bukan dokumentasi banjir bandang Arosuka September 2026.Sumber gambar: Abdul Hanif Arromy / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

Korban terakhir yang dilaporkan hilang akibat banjir bandang di Kabupaten Solok telah ditemukan meninggal dunia. Operasi SAR dihentikan, sementara penanganan beralih ke kebutuhan dasar, pendataan kerusakan, dan pemulihan wilayah terdampak.

SOLOK — Operasi pencarian korban banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berakhir setelah tim SAR gabungan menemukan korban terakhir yang sebelumnya dilaporkan hilang. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat, 25 September 2026, sehingga jumlah korban meninggal dalam bencana tersebut menjadi dua orang.

BNPB dalam pembaruan resminya menyatakan seluruh korban yang dilaporkan hilang kini telah ditemukan. Lembaga itu mencatat kedua korban meninggal masing-masing berinisial DA, 21 tahun, dan A, 59 tahun. Korban terakhir ditemukan sekitar pukul 11.00 WIB di belakang Kantor Bupati Solok.

Operasi SAR berakhir, fokus bergeser ke pemulihan

Penemuan korban terakhir membuat operasi pencarian dan pertolongan resmi dihentikan. Tahap penanganan berikutnya berfokus pada pembersihan material, pemenuhan kebutuhan dasar warga, pendataan kerusakan, dan percepatan pemulihan kawasan terdampak. Pergeseran ini penting karena kebutuhan warga tidak berhenti ketika pencarian selesai.

BNPB menyebut Pemerintah Kabupaten Solok sedang menyiapkan keputusan bupati mengenai data rumah rusak berat, sedang, dan ringan. Estimasi kebutuhan dukungan hunian sementara ditargetkan tersedia pada 28 September 2026. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan tempat tinggal sementara yang aman dan layak agar warga dengan rumah rusak berat tidak terlalu lama bertahan di tenda pengungsian.

Ratusan warga sempat mengungsi

Data BNPB per 24 September, sebelum korban terakhir ditemukan, mencatat 474 jiwa mengungsi. Kerusakan sementara mencakup 11 rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan 32 rumah rusak ringan. Dua kantor pemerintahan dilaporkan rusak berat, delapan kantor rusak ringan, serta lima ruas jalan dan dua jembatan terdampak.

Angka kerusakan dan jumlah pengungsi dapat berubah seiring verifikasi lapangan. Karena itu, data tersebut perlu dibaca sebagai potret sementara pada tahap tanggap darurat, bukan angka akhir. BNPB menyatakan kajian teknis dan risiko akan menjadi dasar penanganan infrastruktur serta hunian masyarakat dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Apa yang perlu dipantau setelah pencarian selesai

Bagi warga terdampak, perkembangan penting berikutnya adalah hasil pendataan rumah, penyediaan hunian sementara, pemulihan layanan dasar, serta pembukaan akses yang masih terganggu. BNPB menyebut penanganan akan dilanjutkan melalui penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana atau R3P.

Banjir bandang menerjang kawasan Arosuka setelah hujan berintensitas tinggi pada 21 September. Material lumpur, batu, dan kayu berdampak pada permukiman, fasilitas pemerintahan, jalan, dan jembatan. Dengan berakhirnya operasi SAR, perhatian kini beralih dari pencarian korban ke pemulihan warga dan infrastruktur secara bertahap, dengan data resmi terbaru sebagai dasar penyaluran bantuan dan rekonstruksi.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.