Daerah

Karhutla Palangka Raya Capai 1.201 Hektare, Kalteng Jadi Pusat Hotspot Nasional

Ilustrasi AI petugas memadamkan kebakaran lahan gambut di tepi kawasan perkotaan Kalimantan Tengah
Ilustrasi AI Warta Nusa Raya tentang operasi pemadaman karhutla di lahan gambut; bukan dokumentasi kejadian di Palangka Raya.Sumber gambar: Warta Nusa Raya / Ilustrasi AI · Ilustrasi editorial milik Warta Nusa Raya

BPBD mencatat 567 kejadian karhutla membakar sekitar 1.201 hektare di Palangka Raya hingga 16 September 2026. Kalimantan Tengah juga menjadi konsentrasi hotspot tertinggi nasional.

PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, telah membakar sekitar 1.201,15 hektare sepanjang 1 Juni hingga 16 September 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya mencatat 567 kejadian karhutla dalam periode tersebut, menunjukkan tekanan kebakaran masih tinggi ketika kondisi atmosfer kering mendominasi.

Perkembangan lokal itu bertepatan dengan peningkatan titik panas berkepercayaan tinggi di tingkat nasional. Kementerian Kehutanan mencatat 1.437 hotspot secara nasional pada 14 September pukul 21.05 WIB, melonjak dari 592 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah menjadi konsentrasi terbesar dengan 689 titik, naik dari 89 titik.

Kebakaran meluas di tengah kondisi kering

Salah satu operasi pemadaman dilakukan di Jalan Tjilik Riwut Km 17, Palangka Raya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan kebakaran di lokasi itu mulai terpantau pada malam 14 September dan api bergerak dari titik awal. Luas kebakaran di lokasi tersebut belum ditetapkan secara final karena penanganan dan pengukuran masih berlangsung.

Angka hotspot tidak sama dengan jumlah kebakaran. Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit; satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Karena itu, data satelit harus dibaca bersama pemeriksaan lapangan, kondisi asap, arah angin, kualitas udara, dan laporan pemadaman.

BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pengamatan mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi kering yang diperkuat El Niño meningkatkan kemungkinan api bertahan lama, terutama pada lahan gambut karena kebakaran dapat merambat di bawah permukaan.

Asap meluas, operasi darat dan udara diperkuat

Citra Satelit Himawari-9 pada 14 September mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Kementerian Kehutanan menyatakan sebagian wilayah di Sumatra dan Kalimantan berada pada kategori kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya di beberapa lokasi.

Tim gabungan melakukan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, dan pendinginan. Pemerintah juga menyiagakan 53 armada udara pada enam provinsi prioritas: 34 untuk water bombing dan 19 untuk patroli udara serta dukungan operasi modifikasi cuaca. Penggunaan OMC tetap bergantung pada kebutuhan lapangan dan keberadaan awan yang memenuhi persyaratan meteorologis.

Potensi hujan sedang masih diprakirakan di Kalimantan Tengah hingga 21 September, tetapi hujan lokal tidak otomatis mengakhiri risiko karhutla. Api gambut dapat bertahan di bawah permukaan, sehingga pemeriksaan dan pendinginan lanjutan tetap diperlukan setelah nyala api terlihat padam.

Langkah perlindungan bagi warga

Warga perlu memantau informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruang ketika kondisi memburuk. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis memerlukan perlindungan lebih ketat. Masker yang sesuai dapat digunakan saat terpaksa beraktivitas di luar, disertai upaya menjaga udara dalam ruangan tetap bersih.

Masyarakat dan pelaku usaha dilarang membuka atau membersihkan lahan dengan membakar. Temuan asap, api, atau aktivitas pembakaran perlu segera dilaporkan kepada BPBD, aparat setempat, atau Posko Karhutla Kementerian Kehutanan agar petugas dapat melakukan respons awal sebelum kebakaran meluas.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.