Bappenas Dorong Pertumbuhan Berbasis Produktivitas dan Transformasi Struktural
Bappenas menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang perlu ditopang peningkatan produktivitas, inovasi, kualitas sumber daya manusia, penguatan industri, dan kelembagaan yang tangguh agar transformasi ekonomi berjalan lebih berkelanjutan.
JAKARTA — Kementerian PPN/Bappenas menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak cukup diukur dari kenaikan produk domestik bruto. Kapasitas produktif melalui produktivitas, inovasi, kualitas sumber daya manusia, penguatan industri, dan kelembagaan yang tangguh perlu tumbuh bersamaan agar perekonomian mampu menghasilkan nilai tambah serta bertahan menghadapi perubahan.
Pesan itu disampaikan dalam Bappenas-ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions di Jakarta pada 8–9 September 2026. Forum bersama Asian Development Bank Institute tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, lembaga kajian, akademisi, organisasi nonpemerintah, dan mitra pembangunan untuk membandingkan pengalaman negara-negara Asia menyusun visi pembangunan jangka panjang.
Transformasi struktural menjadi agenda utama
Agenda konferensi mencakup stabilitas makroekonomi, transformasi struktural, peningkatan produktivitas, ketahanan ekonomi, transisi hijau, pembangunan sumber daya manusia, dan kapasitas institusi. Cakupan itu menunjukkan pertumbuhan berkualitas memerlukan keterhubungan antara kebijakan industri, teknologi, tenaga kerja, infrastruktur, lingkungan, dan tata kelola, bukan satu program yang berdiri sendiri.
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan lingkungan global menghadapi ketegangan geopolitik yang memengaruhi perdagangan dan investasi, perubahan teknologi yang mengubah produksi dan pekerjaan, serta perubahan iklim dan transisi energi. Menurut dia, fondasi ekonomi jangka panjang harus dirancang agar mampu beradaptasi terhadap rangkaian perubahan tersebut.
Bappenas mengaitkan agenda itu dengan RPJPN dan Visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah dan menjadi negara berpendapatan tinggi. Febrian mengingatkan bahwa visi baru berguna bila diterjemahkan menjadi aksi berupa produktivitas yang lebih tinggi, inovasi yang lebih cepat, peningkatan mutu manusia, dan institusi yang mampu menopang transformasi selama beberapa dekade.
Perencanaan harus berujung pada keputusan
Menurut Bappenas, perencanaan tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Data dan bukti perlu menjadi dasar keputusan, pemerintah perlu mengantisipasi beberapa skenario, koordinasi antarsektor harus berjalan, dan kebijakan mesti dapat disesuaikan ketika keadaan berubah. Kerangka ini penting agar sasaran jangka panjang tidak terputus dari pelaksanaan dan evaluasi tahunan.
Setiap negara memiliki jalur transformasi berbeda berdasarkan pengalaman industrialisasi, pembangunan infrastruktur dan manusia, produktivitas, serta penguatan institusi. Karena itu, pertukaran pengalaman Asia bukan untuk menyalin satu model, melainkan untuk menilai kebijakan mana yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ukuran kemajuannya pada akhirnya perlu terlihat pada peningkatan nilai tambah, kemampuan teknologi, mutu pekerjaan, daya saing industri, dan ketahanan ekonomi, bukan hanya pada laju pertumbuhan agregat.
Sumber primer penting
Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:
- Kementerian PPN/Bappenas — Bappenas-ADBI Joint Conference — diakses 8 September 2026
Sumber verifikasi redaksi
Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.
- Kementerian PPN/Bappenas — Bappenas-ADBI Joint Conference — diakses 8 September 2026
- ANTARA — Bappenas: Pertumbuhan ekonomi harus diikuti peningkatan produktivitas — diakses 8 September 2026