Nasional · Opini

Target Ekonomi 6 Persen 2027 Butuh Lonjakan Produktivitas, Bukan Sekadar Belanja Lebih Besar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto sebagai foto konteks kebijakan pemerintah terkait target pertumbuhan ekonomi 2027.Sumber gambar: Kementerian Perindustrian RI / Wikimedia Commons · Domain publik Pemerintah Indonesia

Pemerintah kembali menegaskan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 dan menempatkan produktivitas sebagai salah satu kuncinya. Tantangan sebenarnya adalah memastikan pelatihan, investasi, teknologi, dan penciptaan pekerjaan menghasilkan nilai tambah per pekerja yang lebih tinggi.

JAKARTA — Target ekonomi 6 persen 2027 kembali ditempatkan pemerintah sebagai sasaran penting, tetapi angka pertumbuhan tidak akan bertahan hanya dengan mendorong konsumsi atau menambah belanja. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 21 Agustus 2026 menekankan peningkatan produktivitas, terutama melalui pengembangan sumber daya manusia, sebagai salah satu prasyarat menuju target tersebut.

Pemerintah menyiapkan program seperti Magang Nasional bagi lulusan baru dan Pelatihan Vokasi Nasional yang ditargetkan menjangkau sedikitnya 200 ribu peserta. Arahnya masuk akal: pertumbuhan yang lebih tinggi membutuhkan pekerja yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar, bukan sekadar jumlah tenaga kerja yang bertambah.

Target ekonomi 6 persen 2027 perlu diterjemahkan ke produktivitas nyata

Produktivitas tidak otomatis naik setelah seseorang mengikuti pelatihan. Keterampilan baru harus bertemu dengan perusahaan yang membutuhkan, teknologi yang dapat digunakan, manajemen yang baik, dan investasi yang menciptakan pekerjaan produktif. Jika pelatihan tidak terhubung dengan kebutuhan industri, program besar mudah berubah menjadi angka peserta tanpa dampak kuat pada pendapatan.

Karena itu, pemerintah perlu mengukur hasil setelah pelatihan: berapa peserta yang mendapat pekerjaan, berapa peningkatan upah, berapa perusahaan yang menaikkan output, dan apakah keterampilan yang diajarkan masih relevan setahun kemudian. Indikator seperti itu lebih berguna daripada hanya menghitung sertifikat.

Data BPS memberi titik awal untuk menilai percepatan tersebut. Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang. Jarak menuju pertumbuhan 6 persen karena itu perlu dijembatani lewat peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan, bukan hanya perluasan jumlah pekerja.

Pertumbuhan tinggi juga harus menjaga permintaan domestik

WNR sebelumnya mencatat tantangan permintaan domestik pada kuartal III 2026. Ini mengingatkan bahwa produktivitas dan konsumsi rumah tangga saling terkait: perusahaan membutuhkan pasar, sementara rumah tangga membutuhkan pekerjaan dan pendapatan yang cukup stabil untuk berbelanja.

Target enam persen akan lebih kredibel bila ditopang kombinasi investasi produktif, ekspor bernilai tambah, adopsi teknologi, pendidikan-vokasi yang responsif, dan kebijakan yang menjaga daya beli. Pertumbuhan yang sehat bukan sekadar lebih cepat, tetapi juga membuat kapasitas ekonomi meningkat tanpa menciptakan ketidakseimbangan baru.

Karena itu, perdebatan publik sebaiknya bergeser dari apakah angka enam persen terdengar ambisius menjadi apakah mesin produktivitasnya benar-benar dibangun. Jika indikator tenaga kerja, investasi, dan output per pekerja membaik secara konsisten, target itu mendapat fondasi. Jika tidak, angka pertumbuhan mudah menjadi sasaran administratif yang jauh dari pengalaman ekonomi rumah tangga.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.