Nasional · Ekonomi

Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19 Persen, Harga Pangan Jadi Pendorong Utama

Aktivitas jual beli di pasar tradisional sebagai foto konteks pergerakan harga konsumen
Foto konteks aktivitas pasar tradisional di Indonesia. Gambar bukan dokumentasi rilis inflasi Agustus 2026.Sumber gambar: Lefaan / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan dan 0,21 persen secara bulanan. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama daging ayam ras, ikut mendorong pergerakan Indeks Harga Konsumen.

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen berada di level 111,97, meningkat dari 108,51 pada Agustus 2025. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,21 persen setelah IHK naik dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus.

Pergerakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi bulanan. Daging ayam ras memberikan andil terbesar, disusul sejumlah komoditas seperti cabai rawit, ikan segar, dan beras. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa harga pangan kembali menjadi komponen penting yang memengaruhi pengeluaran rumah tangga menjelang akhir kuartal ketiga 2026.

Inflasi tahun berjalan mencapai 1,86 persen

Secara tahun kalender, inflasi Januari hingga Agustus 2026 tercatat 1,86 persen. Sementara itu, inflasi komponen inti mencapai 2,92 persen secara tahunan. Angka komponen inti memberi gambaran mengenai tekanan harga yang lebih persisten setelah mengeluarkan sebagian komponen bergejolak dan harga yang diatur pemerintah.

Data BPS juga menunjukkan variasi inflasi cukup lebar antarwilayah. Inflasi tahunan tertinggi pada tingkat provinsi tercatat di Maluku Utara sebesar 5,28 persen, sedangkan terendah di Kalimantan Utara sebesar 2,17 persen. Pada tingkat kabupaten dan kota, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,20 persen dan Kabupaten Morowali terendah sebesar 1,22 persen.

Harga pangan tetap menjadi penentu daya beli

Rincian komoditas pendorong inflasi memperlihatkan pentingnya pemantauan stok dan distribusi pangan, terutama untuk bahan yang cepat bergejolak. Bagi rumah tangga, kenaikan kecil pada bahan makanan pokok dapat langsung terasa karena belanja pangan menjadi pengeluaran rutin. Karena itu, data inflasi bulanan perlu dibaca bersama kondisi pasokan di daerah, bukan hanya angka nasional.

Perkembangan inflasi Agustus menjadi salah satu indikator penting untuk membaca daya beli dan stabilitas harga di dalam negeri. Konsistensi pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta pengendalian harga komoditas yang bergejolak akan menentukan arah inflasi pada bulan-bulan berikutnya.

Pembaca juga perlu membedakan inflasi bulanan dan tahunan. Angka 0,21 persen menggambarkan perubahan harga rata-rata dari Juli ke Agustus, sedangkan 3,19 persen membandingkan Agustus 2026 dengan Agustus tahun sebelumnya. Dampak pada setiap rumah tangga dapat berbeda karena pola konsumsi dan harga di tiap daerah tidak sama. Karena itu, data nasional sebaiknya dipakai sebagai gambaran umum dan dilengkapi dengan perkembangan komoditas yang paling sering dibeli serta kondisi harga di wilayah masing-masing.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.