Nasional

BNPB: Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang, Hampir 60 Ribu Warga Mengungsi

Permukiman tradisional Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur
Permukiman Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur, sebagai foto konteks wilayah; bukan dokumentasi kejadian gempa Agustus 2026.Sumber gambar: Sari Soemargo-Kessler (EiKalliK) / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

BNPB melaporkan korban meninggal akibat gempa di Nusa Tenggara Timur mencapai 71 orang. Sebanyak 59.647 warga masih mengungsi, sementara distribusi logistik terus dikebut ke wilayah Flores yang aksesnya menantang.

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur mencapai 71 orang dalam pembaruan per 19 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB. Penambahan satu korban meninggal tercatat di Kabupaten Nagekeo.

Pada waktu pembaruan yang sama, BNPB mencatat 59.647 warga mengungsi. Kabupaten Manggarai menampung jumlah pengungsi terbesar, yakni 20.333 orang. Angka korban dan pengungsi tersebut merupakan potret data pada 19 Agustus, sehingga tidak boleh dibaca sebagai kondisi terkini tanpa pembaruan baru dari otoritas.

Distribusi 398 ton bantuan berlangsung bertahap

BNPB menyatakan total 398 ton bantuan dikirim selama 15–18 Agustus melalui dukungan jalur udara dan laut. Jalur darat tetap menjadi pilihan utama dari titik logistik menuju pengungsian, tetapi penyaluran harus menyesuaikan kondisi jalan, bentang geografis Flores, dan sebaran warga di banyak lokasi.

Pemerintah juga menggunakan transportasi laut untuk memperluas jangkauan. Pada 18 Agustus, KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok dengan paket sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan bantuan dari berbagai unsur masyarakat.

Layanan dasar menjadi fokus pengungsian

BNPB menyebut kebutuhan prioritas meliputi makanan, air bersih, tenda, matras, selimut, layanan kesehatan, sanitasi, dan kebersihan. Pendataan kelompok rentan juga diperlukan agar anak-anak, warga lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas memperoleh layanan yang sesuai.

Pemenuhan kebutuhan tidak cukup dihitung dari tonase bantuan yang tiba di wilayah terdampak. Penanganan perlu memastikan barang benar-benar sampai ke setiap titik pengungsian, stok dicatat, dan distribusi disesuaikan dengan jumlah serta kebutuhan warga karena lokasi mereka tidak terpusat.

BMKG mencatat 3.055 gempa susulan

Dalam keterangan terpisah pada 19 Agustus, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan 3.055 gempa susulan tercatat hingga pukul 17.00 WIB. Gempa susulan terbesar bermagnitudo 6,2 dan 88 kejadian dilaporkan dirasakan masyarakat. Data kegempaan BMKG dan data dampak BNPB menjelaskan dua sisi berbeda dari situasi darurat.

Warga di wilayah terdampak perlu mengikuti arahan BNPB, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah mengenai keamanan bangunan, gempa susulan, serta lokasi layanan. Foto utama artikel ini menampilkan Wae Rebo sebagai konteks wilayah Flores dan bukan dokumentasi gempa, korban, kerusakan, atau distribusi bantuan Agustus 2026.

Angka korban dan pengungsi dalam bencana dapat berubah seiring proses verifikasi lapangan, sehingga pembaca perlu memperhatikan waktu pembaruan setiap sumber. Data BNPB mengenai dampak kemanusiaan dan data BMKG mengenai aktivitas gempa memiliki fungsi berbeda dan tidak boleh dicampur sebagai satu ukuran. Untuk keluarga terdampak, informasi paling berguna tetap berupa lokasi layanan, akses logistik, kondisi jalur, status bangunan, serta arahan resmi mengenai keselamatan setelah gempa susulan.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.