Hari Aksara Internasional 2026 Dorong Literasi Lebih Kritis di Era Digital dan AI
Peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional menjadi momentum memperluas makna literasi dari sekadar kemampuan membaca dan menulis menjadi kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, dan menggunakan teknologi secara bijak.
JAKARTA — Peringatan Hari Aksara Internasional pada 8 September 2026 menjadi momentum untuk memperluas makna literasi di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, teknologi digital, dan penggunaan kecerdasan artifisial. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir reflektif, dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.
Peringatan tahun ini menandai enam dekade sejak UNESCO memproklamasikan Hari Aksara Internasional pada 1966; UNESCO mencatat peringatan tahunannya berlangsung sejak 1967. Indonesia mengusung tema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, adaptasi dari tema global “Literacy for People, the Planet and Prosperity”.
Literasi kritis di tengah arus digital
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, saat membuka webinar peringatan pada 8 September, mengajak masyarakat tidak sekadar menerima informasi. Ia mendorong kebiasaan menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi informasi, terutama ketika digitalisasi dan AI mempercepat produksi serta penyebaran konten.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menambahkan bahwa literasi harus membuat manusia lebih berdaya, memahami keterhubungan dengan lingkungan, dan memperoleh kecakapan untuk membangun kehidupan. Dengan ukuran itu, keberhasilan gerakan literasi tidak cukup dinilai dari kemeriahan acara, tetapi dari perubahan yang dialami masyarakat.
Kesenjangan akses masih besar
Urgensi tersebut terlihat pada data global UNESCO. Meski tingkat melek aksara membaik, sedikitnya 739 juta pemuda dan orang dewasa masih belum memiliki keterampilan literasi dasar pada 2024. UNESCO juga mencatat empat dari sepuluh anak belum mencapai kecakapan minimum membaca, sementara 272 juta anak dan remaja berada di luar sekolah pada 2023.
Kemendikdasmen mendorong September 2026 dihidupkan sebagai Bulan Literasi melalui kegiatan yang dekat dengan persoalan warga dan melibatkan keluarga serta komunitas. Pemerintah juga mengapresiasi peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Sanggar Kegiatan Belajar, Taman Bacaan Masyarakat, dan komunitas literasi yang menjangkau wilayah dengan keterbatasan layanan.
Tantangannya kini bersifat ganda: memperluas akses terhadap bacaan dan pembelajaran dasar sekaligus membangun kecakapan memeriksa sumber, konteks, serta tujuan sebuah informasi. Sekolah, perpustakaan, keluarga, media, dan komunitas perlu menyediakan ruang belajar sepanjang hayat agar teknologi membantu pemerataan pengetahuan, bukan memperlebar kesenjangan atau mempercepat penyebaran informasi menyesatkan.
Sumber primer penting
Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:
Sumber verifikasi redaksi
Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.
- Kemendikdasmen - Peringatan 60 Tahun Hari Aksara Internasional, Kemendikdasmen Dorong Literasi yang Berdampak — diakses 8 September 2026
- ANTARA - Mendikdasmen: Hari Aksara Internasional hidupkan bulan literasi — diakses 8 September 2026
- Suara Merdeka Jakarta - Hari Aksara Internasional 2026, Literasi harus Berdampak Nyata — diakses 8 September 2026
- UNESCO — International Literacy Day — diakses 9 September 2026