Nasional · Teknologi

MOLINAS Punya Empat Kriteria Motor Listrik Nasional, TKDN Harus di Atas 60 Persen

Sepeda motor listrik sebagai foto konteks teknologi kendaraan listrik
Sepeda motor listrik sebagai foto konteks pengembangan ekosistem motor listrik nasional; bukan model MOLINAS Indonesia.Sumber gambar: DHZehrbach / Wikimedia Commons · CC BY-SA 3.0

Program MOLINAS menetapkan empat kriteria untuk motor listrik nasional: TKDN di atas 60 persen, desain dan rekayasa domestik, baterai berbasis nikel, serta harga yang terjangkau bagi pasar Indonesia.

JAKARTA — MOLINAS motor listrik nasional memiliki empat kriteria yang diarahkan untuk membangun kemampuan industri domestik, bukan sekadar memperbesar penjualan kendaraan listrik. Pemerintah mensyaratkan tingkat komponen dalam negeri di atas 60 persen, desain dan rekayasa di dalam negeri, penggunaan baterai berbasis nikel, serta harga yang terjangkau.

Empat syarat itu menunjukkan fokus kebijakan bergerak dari insentif konsumsi menuju penguasaan rantai pasok. Tantangannya adalah memastikan target kandungan lokal menghasilkan kemampuan teknologi nyata dan bukan hanya perakitan akhir.

MOLINAS motor listrik nasional mengejar kemampuan desain

Kriteria desain dan rekayasa domestik penting karena nilai tambah industri kendaraan tidak hanya berasal dari pabrik perakitan. Riset motor penggerak, kontrol elektronik, manajemen baterai, perangkat lunak, keselamatan, dan integrasi komponen menentukan daya saing jangka panjang.

Kementerian Perindustrian mencatat dua industri kecil dan menengah binaannya telah memproduksi kotak serta braket baterai untuk ekosistem Molinas. Contoh itu menunjukkan lokalisasi dapat dimulai dari komponen yang telah dikuasai, lalu bergerak ke pekerjaan bernilai tambah lebih tinggi setelah pemasok memenuhi standar teknologi, kualitas, kapasitas, sertifikasi, biaya, dan ketepatan pengiriman.

Konteks industrinya lebih luas daripada satu program. Kemenperin pada Juni 2026 menyatakan sudah ada kendaraan listrik produksi dalam negeri dengan TKDN di atas 60 persen, tetapi juga mengakui ketergantungan pada impor mesin dan peralatan industri masih besar. Artinya, kenaikan TKDN perlu dibarengi kemampuan memproduksi alat, komponen kritis, dan teknologi proses di dalam negeri.

Pemerintah juga mengaitkan baterai berbasis nikel dengan agenda hilirisasi mineral. Namun pilihan teknologi perlu terus dievaluasi terhadap biaya, keselamatan, kepadatan energi, kebutuhan pengguna, dan perkembangan kimia baterai global.

Harga tetap menentukan adopsi

Data yang disampaikan pejabat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kepada ANTARA menunjukkan kesenjangan pasar masih lebar: Indonesia memiliki 145,25 juta sepeda motor konvensional pada 2025, sedangkan jumlah motor listrik tercatat 229.554 unit hingga Desember. Angka tersebut menggambarkan ruang pertumbuhan, bukan jaminan permintaan akan otomatis terbentuk.

Harga pembelian, biaya dan umur baterai, ketersediaan pengisian, layanan purnajual, serta nilai jual kembali akan menentukan penerimaan pasar. Klaim manfaat ekonomi dan penghematan subsidi juga perlu diuji terhadap penjualan aktual, pola pemakaian, sumber listrik, dan biaya dukungan kebijakan.

Keberhasilan MOLINAS pada akhirnya perlu diukur dari produk yang aman dan kompetitif, bertambahnya pemasok lokal berkualifikasi, lapangan kerja teknis, dan berkurangnya impor komponen bernilai tinggi. Pelaporan berkala mengenai realisasi TKDN dan kinerja produk akan membantu publik membedakan target kebijakan dari hasil yang sudah dicapai.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.