Daerah

Angkutan Barang KAI Daop 8 Naik 7,13 Persen, Peti Kemas Jadi Penopang Utama

Lokomotif KAI sedang langsir di Stasiun Kalimas Surabaya sebagai foto konteks angkutan barang berbasis rel
Foto konteks lokomotif di Stasiun Kalimas, Surabaya, pada April 2025. Gambar ini bukan dokumentasi khusus capaian angkutan barang KAI Daop 8 periode Januari–Agustus 2026.Sumber gambar: CTAKLDB / Wikimedia Commons · CC0 1.0

KAI Daop 8 Surabaya mengangkut 1.988.315 ton barang pada Januari–Agustus 2026, naik 7,13 persen secara tahunan. Peti kemas mendominasi, sementara data BPS memberi konteks tren angkutan rel nasional.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya mencatat volume angkutan barang sebanyak 1.988.315 ton sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Jumlah itu meningkat 7,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1.856.051 ton, sehingga terdapat tambahan sekitar 132 ribu ton muatan yang bergerak melalui jaringan rel di wilayah operasi Surabaya.

Komposisi angkutan menunjukkan peti kemas menjadi muatan terbesar dengan 1.332.445 ton atau sekitar 67 persen dari total volume. Bahan bakar minyak berada di posisi berikutnya dengan 608.555 ton, disusul barang retail 32.934 ton dan komoditas lain 14.381 ton. Struktur ini menunjukkan layanan barang Daop 8 terutama menopang arus peti kemas dan energi, bukan hanya kiriman retail.

Pertumbuhan berlanjut setelah semester pertama

Pada semester pertama 2026, volume angkutan barang Daop 8 tercatat 1.482.526 ton. Dengan membandingkan angka tersebut dengan realisasi Januari–Agustus, sekitar 505.789 ton tambahan tercatat pada Juli dan Agustus. Perbandingan ini membantu melihat bahwa pertumbuhan tidak berhenti pada paruh pertama tahun, meski angka dua bulan tersebut tidak dapat dibaca sebagai proyeksi otomatis untuk sisa 2026.

Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono menjelaskan bahwa kereta barang memiliki kapasitas besar dan pola perjalanan terjadwal yang dapat menjadi pertimbangan pelaku usaha dalam memilih moda distribusi. KAI juga menempatkan integrasi dengan terminal peti kemas, kawasan industri, pergudangan, dan pelabuhan sebagai bagian penting dari penguatan rantai logistik.

Bagaimana posisinya dalam tren angkutan rel

Data Badan Pusat Statistik memberi konteks yang lebih luas. Secara nasional, jumlah barang yang diangkut kereta api pada Juli 2026 mencapai 6,52 juta ton, naik 1,46 persen dibandingkan Juni yang sebesar 6,43 juta ton. Namun secara kumulatif Januari–Juli 2026, volume nasional tercatat 41,32 juta ton atau turun 0,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbedaan arah antara pertumbuhan Daop 8 dan angka kumulatif nasional penting dibaca secara proporsional. Data Daop 8 menggambarkan satu wilayah operasi KAI dengan karakter logistik Jawa Timur, sedangkan statistik BPS mencakup angkutan kereta di tingkat nasional. Karena cakupan dan periodenya tidak identik, keduanya tidak tepat dibandingkan sebagai ukuran kinerja langsung, tetapi dapat menunjukkan bahwa dinamika angkutan rel tidak seragam di semua wilayah.

Dampak bagi logistik Jawa Timur

Bagi pelaku usaha di Jawa Timur, kenaikan volume ini memperlihatkan bertambahnya pemanfaatan jalur rel untuk distribusi barang dalam jumlah besar. Dominasi peti kemas juga relevan bagi konektivitas kawasan industri dan pelabuhan di sekitar Surabaya, terutama ketika perusahaan mempertimbangkan kombinasi moda jalan, rel, dan laut untuk rantai pasok.

Perkembangan berikutnya yang perlu dipantau adalah apakah tren pertumbuhan Daop 8 bertahan hingga akhir tahun, bagaimana komposisi peti kemas dan BBM berubah, serta sejauh mana integrasi layanan rel dengan terminal dan pelabuhan menambah kapasitas distribusi. Angka akhir 2026 nantinya akan memberi dasar yang lebih utuh untuk membandingkan pertumbuhan tahunan tanpa menarik kesimpulan dari periode parsial.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.