Daerah

Kalbar Kerahkan Tiga Pesawat Modifikasi Cuaca untuk Tekan Risiko Karhutla

Pemandangan udara kawasan Pontianak, Kalimantan Barat
Pemandangan udara kawasan Pontianak sebagai foto konteks wilayah pelaksanaan mitigasi karhutla; bukan dokumentasi operasi modifikasi cuaca Agustus 2026.Sumber gambar: Angelpraptodio / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

Pemprov Kalimantan Barat mengerahkan tiga pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, dua di Ketapang dan satu disiagakan di Pontianak, saat risiko karhutla masih tinggi pada puncak kemarau.

PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengerahkan tiga pesawat untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan pada 18 Agustus 2026 mengatakan dua pesawat ditempatkan untuk mendukung operasi di Kabupaten Ketapang, sedangkan satu pesawat disiagakan di Pontianak.

Pesawat tersebut digunakan untuk menyemai awan dengan bahan semai garam guna meningkatkan peluang hujan di wilayah yang membutuhkan. Norsan menyebut kondisi karhutla di Ketapang mulai membaik berdasarkan pemantauan saat itu, tetapi ia tetap meminta semua pihak waspada sampai hujan alami turun lebih merata.

Tiga pesawat dibagi ke dua titik operasi

Pembagian armada menunjukkan dua kebutuhan yang berjalan bersamaan: penanganan di Ketapang dan kesiagaan untuk wilayah Kalimantan Barat lainnya dari Pontianak. Operasi ini tidak berarti hujan dapat dibuat kapan saja karena penyemaian memerlukan awan yang memiliki kondisi fisik sesuai.

BMKG dalam siaran pers 30 Juli 2026 menjelaskan bahwa OMC merupakan langkah pelengkap yang memanfaatkan potensi hujan alami. Ketika cuaca tidak memungkinkan penyemaian, pemadaman langsung di darat tetap menjadi tumpuan utama, disertai koordinasi BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Kalimantan Barat masuk wilayah prioritas

Risiko saat operasi digelar tidak berdiri sendiri. BMKG mencatat 509 zona musim, atau sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia, telah memasuki kemarau hingga pertengahan Juli. Puncak kemarau diproyeksikan mencakup 48,84 persen wilayah pada Agustus dan 25,41 persen pada September 2026.

Hingga 29 Juli, BMKG juga mendeteksi 5.019 titik panas secara nasional yang banyak muncul di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Kalimantan Barat termasuk wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan karena risiko karhutla diperkirakan tinggi di Sumatra dan Kalimantan.

OMC bukan pengganti pencegahan

Karena hasil OMC bergantung pada keadaan atmosfer, patroli, pemadaman titik api, pembasahan lahan rentan, dan larangan membuka lahan dengan membakar tetap diperlukan. Pemerintah daerah juga perlu memantau kualitas udara serta memastikan informasi kesehatan tersedia ketika asap muncul.

Masyarakat dapat memeriksa prakiraan cuaca dan peringatan resmi melalui BMKG, serta melaporkan titik api kepada BPBD, aparat, atau pemerintah daerah. Foto utama artikel ini merupakan foto konteks Pontianak, bukan dokumentasi penerbangan OMC atau lokasi kebakaran.

Efektivitas operasi modifikasi cuaca perlu dibaca bersama data hujan, perubahan hotspot, luas kebakaran, dan aktivitas pemadaman darat pada periode yang sama. Turunnya jumlah titik panas setelah operasi tidak otomatis membuktikan satu penyebab karena cuaca, patroli, pemadaman, serta perubahan kondisi lahan dapat bekerja bersamaan. Publikasi evaluasi operasi akan membantu masyarakat memahami wilayah sasaran, jumlah sorti, kondisi awan, hasil hujan, dan batas kemampuan teknologi tersebut.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.