Nasional · Ekonomi

Kunjungan Wisman Capai 8,98 Juta hingga Juli 2026, Wisata Domestik Juga Tumbuh

Pemandangan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sebagai foto konteks pertumbuhan pariwisata Indonesia
Foto konteks Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Gambar ini bukan dokumentasi rilis statistik pariwisata BPS atau Kementerian Pariwisata pada September 2026.Sumber gambar: sussexbirder / Wikimedia Commons · CC BY 2.0

Kunjungan wisman Januari–Juli 2026 mencapai sekitar 8,98 juta atau naik 5,23 persen, sementara perjalanan wisatawan nusantara pada Juli mencapai 107,44 juta.

JAKARTA — Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai sekitar 8,98 juta sepanjang Januari–Juli 2026, tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli saja, Badan Pusat Statistik mencatat 1,525 juta kunjungan wisman, naik 2,95 persen secara tahunan.

Pergerakan wisata domestik juga meningkat. BPS mencatat 107,44 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Juli 2026, tumbuh 7,23 persen dibandingkan Juli 2025. Pada bulan yang sama, tingkat penghunian kamar hotel bintang berada di 54,54 persen, naik 1,75 poin persentase secara tahunan.

Bali dan pintu udara masih menjadi penggerak utama

Data BPS menunjukkan pintu udara mencatat 1,13 juta kunjungan wisman pada Juli 2026. Bandara I Gusti Ngurah Rai melayani 697.800 kunjungan, sementara Soekarno-Hatta mencatat 307.051 kunjungan. Pintu masuk Juanda di Jawa Timur mencatat 34.464 kunjungan pada bulan yang sama.

Dari sisi kebangsaan, kunjungan pada Juli masih banyak berasal dari negara-negara yang secara geografis dekat dengan Indonesia. Data menurut paspor menunjukkan wisatawan Malaysia mencapai 228.714 kunjungan dan Singapura 117.278 kunjungan pada Juli. Struktur pasar seperti ini membuat konektivitas penerbangan regional tetap penting bagi pertumbuhan pariwisata.

Kemenpar menyoroti pertumbuhan dan ketahanan sektor

Kementerian Pariwisata menyatakan pertumbuhan hingga Juli memberi sinyal positif, tetapi tetap menekankan perlunya mitigasi terhadap dinamika global. Kemenpar juga mencatat pertumbuhan kunjungan dari kawasan Asia lainnya, Asia Tenggara, dan Oseania, sekaligus mendorong strategi pasar agar momentum kunjungan dapat dipertahankan sampai akhir tahun.

Bagi daerah tujuan wisata, jumlah kunjungan bukan satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan. Lama tinggal, belanja wisatawan, okupansi akomodasi, sebaran kunjungan, serta kemampuan usaha lokal menangkap permintaan akan menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di daerah.

Wisata domestik tetap menjadi bantalan penting

Jumlah perjalanan wisatawan nusantara yang jauh lebih besar dibanding kunjungan wisman menunjukkan pasar domestik tetap menjadi fondasi sektor pariwisata Indonesia. Ketika kondisi eksternal berubah, perjalanan dalam negeri dapat membantu menjaga permintaan transportasi, akomodasi, kuliner, atraksi, dan usaha mikro di destinasi.

Data Juli memberi gambaran pertumbuhan yang cukup merata pada wisata asing dan domestik, tetapi kinerja sampai akhir tahun masih bergantung pada musim perjalanan, kapasitas penerbangan, kondisi ekonomi, harga tiket, dan stabilitas di destinasi. Pembaruan statistik bulanan berikutnya akan menunjukkan apakah laju pertumbuhan 2026 dapat dipertahankan.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.