Nasional · Ekonomi

Bauran EBT Capai 17,3 Persen, Ini 4 Pengungkit yang Didorong Pemerintah

Panel surya sebagai foto konteks pengembangan energi baru terbarukan
Foto konteks panel surya untuk menggambarkan pengembangan energi baru terbarukan. Foto ini bukan dokumentasi IndoEBTKE ConEx 2026 maupun lokasi proyek tertentu di Indonesia.Sumber gambar: Arthur Grigoryan / Wikimedia Commons · CC BY-SA 3.0

Bauran energi baru terbarukan Indonesia pada semester I 2026 berada di kisaran 17,3 persen. Pemerintah mendorong percepatan pengembangan energi bersih melalui penguatan investasi, infrastruktur, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

JAKARTA — Bauran energi baru terbarukan Indonesia pada semester I 2026 berada di kisaran 17,3 persen. Angka tersebut menunjukkan agenda transisi energi masih membutuhkan percepatan agar target pengembangan energi bersih dapat dicapai secara konsisten.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menempatkan penguatan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi sebagai bagian dari agenda kemandirian energi nasional. Dalam IndoEBTKE Convention and Exhibition 2026 di Jakarta, pemerintah mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas regulasi, teknologi, infrastruktur, logistik, pembiayaan, serta kapasitas riset dan inovasi.

Investasi dan pembangunan pembangkit menjadi kunci

Laporan mengenai capaian semester pertama menyebut bauran EBT sempat berada pada level 18,3 persen pada triwulan I sebelum turun ke 17,3 persen. Pada saat yang sama, kapasitas terpasang EBT dilaporkan mencapai sekitar 16,32 gigawatt, meningkat dari sekitar 12 gigawatt pada 2021.

Pemerintah karena itu mendorong percepatan investasi dan pembangunan proyek energi terbarukan. Langkah tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk menambah kapasitas pembangkit bersih, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian rantai pasok global dan dinamika geopolitik.

Rantai pasok domestik ikut menentukan

Kementerian ESDM menilai pengembangan energi bersih membutuhkan rantai pasok yang terintegrasi dari bahan baku, manufaktur, teknologi, hingga sumber daya manusia. Indonesia memiliki mineral seperti bauksit, nikel, silika, dan tembaga, tetapi pemanfaatannya untuk industri panel surya, baterai, dan teknologi energi bersih tetap memerlukan penguasaan teknologi serta kapasitas manufaktur.

Agenda transisi energi juga berkaitan langsung dengan kebutuhan industri, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing. Ketersediaan energi yang andal dengan porsi energi bersih lebih besar perlu ditopang kepastian investasi, infrastruktur jaringan, kesiapan penyimpanan energi, dan realisasi proyek yang konsisten agar target tidak berhenti pada perencanaan.

Bauran 17,3 persen merupakan potret pada satu periode dan belum menggambarkan seluruh tantangan transisi energi. Kemajuan berikutnya perlu dilihat dari kapasitas pembangkit baru yang benar-benar beroperasi, kesiapan jaringan menerima pasokan variabel, kecepatan perizinan, ketersediaan pembiayaan, serta kemampuan proyek menjaga keandalan sistem. Dengan indikator tersebut, kenaikan porsi energi bersih dapat dinilai dari tambahan pasokan nyata dan bukan hanya target atau proyek yang masih berada pada tahap rencana.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.