Nasional

Nilai Tukar Petani Agustus 2026 Naik 1,05 Persen ke Level 129,19

Petani mengolah sawah sebagai foto konteks perkembangan Nilai Tukar Petani Indonesia
Foto konteks: petani mengolah sawah di Indonesia. Gambar ini bukan dokumentasi rilis Nilai Tukar Petani Agustus 2026 oleh BPS.Sumber gambar: Mjnspt / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

BPS mencatat Nilai Tukar Petani nasional pada Agustus 2026 naik 1,05 persen menjadi 129,19. Kenaikan terjadi karena indeks harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan indeks harga yang dibayar petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 berada di level 129,19. Angka itu naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 127,84.

Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan indeks harga yang dibayar petani. BPS mencatat indeks harga yang diterima petani naik 1,14 persen menjadi 165,66, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya naik 0,09 persen menjadi 128,24.

Gabah dan kelapa sawit ikut mendorong

Sejumlah komoditas menjadi pendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani, antara lain gabah, kelapa sawit, karet, dan ayam ras pedaging. Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi antara lain oleh beras, daging ayam ras, kacang panjang, dan buncis.

Jika dilihat per subsektor, tanaman pangan mencatat kenaikan NTP sebesar 1,62 persen, sedangkan tanaman perkebunan naik 1,53 persen dan peternakan meningkat 0,96 persen. Di sisi lain, subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 2,84 persen.

BPS juga melaporkan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional pada Agustus 2026 mencapai 133,33, naik 0,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Indikator ini menggambarkan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dan biaya produksi serta penambahan barang modal.

Kenaikan nasional tidak merata antar-subsektor

Pada hortikultura, NTP turun dari 128,11 pada Juli menjadi 124,47 pada Agustus. BPS mencatat indeks harga yang diterima petani hortikultura turun 2,81 persen, sementara indeks yang dibayar naik 0,03 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kenaikan angka nasional perlu dibaca bersama perkembangan tiap subsektor.

Perkembangan NTP menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan daya tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani maupun kebutuhan produksi. Kenaikan NTP tidak otomatis menggambarkan seluruh dimensi kesejahteraan petani, tetapi memberi gambaran bahwa harga yang diterima petani pada periode tersebut meningkat lebih cepat daripada pengeluarannya.

NTP adalah rasio indeks harga dan bukan ukuran pendapatan bersih petani. Seorang petani dapat menghadapi hasil panen yang turun, biaya tertentu yang meningkat, atau perbedaan harga di daerah meskipun indeks nasional naik. Karena itu, pembacaan NTP perlu dilengkapi dengan produksi, volume penjualan, ongkos input, upah, serta kondisi tiap subsektor dan wilayah. Pemisahan ini penting agar kenaikan indeks tidak langsung disimpulkan sebagai kenaikan kesejahteraan seluruh rumah tangga pertanian.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.