Nilai Ekspor CPO Naik 5,49 Persen, Volume Pengiriman Turun 0,97 Persen
Nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Juli 2026 meningkat 5,49 persen menjadi US$14,79 miliar, tetapi volume pengiriman turun 0,97 persen menjadi 13,51 juta ton. Data ini menunjukkan kenaikan nilai ekspor berlangsung di tengah penguatan harga komoditas global.
JAKARTA — Nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya meningkat sepanjang Januari–Juli 2026, meskipun volume pengiriman ke luar negeri justru menurun. Perbedaan arah antara nilai dan volume tersebut menunjukkan bahwa penguatan harga komoditas ikut menopang kinerja ekspor sawit Indonesia.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai US$14,79 miliar pada Januari–Juli 2026, naik 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$14,02 miliar. Pada saat yang sama, volume ekspor turun 0,97 persen dari 13,64 juta ton menjadi 13,51 juta ton.
Harga komoditas ikut menopang nilai ekspor
BPS menyampaikan bahwa harga sejumlah komoditas global pada Juli 2026 meningkat secara tahunan. Kondisi harga tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat nilai ekspor beberapa komoditas utama tetap tumbuh meski volume pengirimannya melemah.
Pola serupa juga terlihat pada komoditas nonmigas utama lain. Nilai ekspor besi dan baja Januari–Juli 2026 naik 2,77 persen menjadi US$16,54 miliar, sementara volumenya turun 5,77 persen. Nilai ekspor batu bara juga tumbuh 4,75 persen menjadi US$14,47 miliar, tetapi volumenya turun 6,17 persen.
Ketiga kelompok komoditas tersebut menyumbang 28,62 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia selama tujuh bulan pertama 2026. Secara keseluruhan, ekspor nonmigas Januari–Juli mencapai US$160,01 miliar atau naik 5,21 persen secara tahunan, sedangkan total ekspor mencapai US$167,03 miliar atau tumbuh 4,43 persen.
Nilai ekspor perlu dibaca bersama volume
Pada 6 September, analisis NEXT Indonesia Center atas data perdagangan menilai kenaikan nilai komoditas utama perlu dibaca bersama penurunan volume pengirimannya. Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong produktivitas di hulu dan hilirisasi agar produk sawit menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Data tersebut memberi gambaran bahwa ketahanan ekspor komoditas Indonesia tidak cukup dilihat dari kenaikan nilai transaksi saja. Perkembangan volume, diversifikasi produk hilir, efisiensi logistik, serta perluasan pasar menjadi faktor penting untuk menjaga kontribusi sektor sawit terhadap perdagangan nasional dalam jangka lebih panjang.
Kombinasi nilai ekspor yang meningkat dan volume yang menurun menunjukkan bahwa pembaca tidak boleh menilai kinerja hanya dari nominal dolar. Perubahan harga rata-rata ekspor dapat mengangkat nilai transaksi meski barang yang dikirim lebih sedikit. Bagi kebijakan, hal ini membuat produktivitas kebun, kapasitas pengolahan, ragam produk hilir, dan akses pasar menjadi penting karena faktor-faktor tersebut menentukan apakah penerimaan ekspor tetap kuat ketika harga global berubah.
Sumber primer penting
Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:
- Badan Pusat Statistik — Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026 — diakses 12 September 2026
- Bisnis.com — BPS: Ekspor Besi Baja, CPO, Batu Bara Naik Sepanjang Januari–Juli 2026 Meski Volume Turun — diakses 12 September 2026
Sumber verifikasi redaksi
Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.
- Badan Pusat Statistik — Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026 — diakses 12 September 2026
- Bisnis.com — BPS: Ekspor Besi Baja, CPO, Batu Bara Naik Sepanjang Januari–Juli 2026 Meski Volume Turun — diakses 12 September 2026
- NEXT Indonesia Center — Ekspor Sawit dan Batu Bara Tergerus Secara Volume — diakses 12 September 2026
- ANTARA — Mentan: Ekspor CPO tumbuh 5,49 persen perkuat perdagangan RI di global — diakses 12 September 2026