Nasional · Teknologi

BRIN Siapkan Modifikasi Cuaca, Drone hingga Desalinasi untuk Hadapi El Nino

Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional
Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai foto konteks lembaga; bukan dokumentasi penerapan teknologi ketahanan air pada Agustus 2026.Sumber gambar: Badan Riset dan Inovasi Nasional / Wikimedia Commons · Public domain di Indonesia

BRIN mengembangkan kombinasi teknologi modifikasi cuaca, drone, desalinasi air laut, Arsinum, dan pemetaan air bawah tanah untuk memperkuat ketahanan air menghadapi El Nino yang lebih panas dan kering.

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional menyiapkan beberapa jalur teknologi untuk memperkuat ketahanan air saat El Nino, bukan satu solusi tunggal. Dalam paparan yang diberitakan pada 6 Agustus 2026, Kepala BRIN Arif Satria menyebut modifikasi cuaca, desalinasi air laut, pengolahan air siap minum, serta pemetaan sumber air bawah tanah.

Untuk modifikasi cuaca, BRIN mengembangkan penggunaan bahan semai natrium klorida berukuran 2–5 mikron, flare, dan pesawat nirawak. Teknologi tersebut bertujuan memengaruhi proses di awan yang sesuai; hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai mesin pembuat hujan tanpa batas.

Riset menunjukkan hasil modifikasi cuaca bergantung kondisi

Studi dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca mengevaluasi operasi di Riau pada 2013, 2015, 2022, dan 2023. Para peneliti menemukan besaran tambahan curah hujan bervariasi, dengan hasil pada kondisi basah La Nina lebih tinggi dibandingkan kondisi netral dan kondisi kering El Nino.

Temuan itu memberi batas penting bagi pembacaan kebijakan. Modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu alat mitigasi ketika awan mendukung, tetapi tidak menggantikan pengelolaan sumber air, perlindungan daerah tangkapan, pemadaman darat untuk kebakaran, atau penghematan air pada periode kering.

Konteks iklim memperkuat urgensi kesiapan air. BMKG pada 30 Juli 2026 menyebut El Nino diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027 dan memperluas operasi modifikasi cuaca di wilayah prioritas untuk membantu mitigasi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Informasi itu tidak berarti modifikasi cuaca selalu dapat dilakukan karena operasi tetap memerlukan kondisi atmosfer dan awan yang mendukung.

Desalinasi dan Arsinum menyasar sumber air berbeda

Arif menyatakan sistem desalinasi BRIN telah diterapkan di 40 wilayah pesisir. Desalinasi mengolah air laut, sedangkan teknologi Air Siap Minum atau Arsinum ditujukan untuk sumber seperti air banjir, air limbah, dan air payau. BRIN menyebut Arsinum telah digunakan di sejumlah lokasi bencana.

Kedua teknologi memerlukan penilaian operasional sebelum diperluas. Kapasitas produksi, kebutuhan energi, mutu air keluaran, perawatan membran atau komponen, ketersediaan suku cadang, serta kemampuan operator lokal menentukan apakah instalasi dapat terus bekerja setelah masa uji coba.

Sumber air bawah tanah ikut dipetakan

BRIN juga menyiapkan living laboratory di Kebumen dan melakukan kajian di Gunungkidul serta wilayah karst lain. Agenda itu mencakup pelacakan aliran bawah tanah dan pengolahan air yang masih mengandung bakteri Escherichia coli agar sumber air dapat digunakan secara lebih aman.

Rangkaian teknologi tersebut menunjukkan pendekatan dari atmosfer, pesisir, air marjinal, hingga bawah tanah. Namun manfaat publik baru dapat dinilai melalui data kinerja di lapangan: berapa banyak air aman yang dihasilkan, biaya per liter, ketahanan alat selama kemarau, dan siapa yang bertanggung jawab atas operasi serta pengawasannya.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.