Nasional · Teknologi

Pabrik Baterai EV Karawang 6,9 GWh Rampung dan Mulai Beroperasi Bertahap

Sel baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik
Contoh sel baterai lithium-ion kendaraan listrik sebagai foto konteks teknologi; bukan foto fasilitas CATIB di Karawang.Sumber gambar: RudolfSimon / Wikimedia Commons · CC BY-SA 3.0

Kementerian ESDM menyatakan pembangunan pabrik sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery di Karawang dengan kapasitas 6,9 GWh per tahun telah rampung dan mulai beroperasi bertahap. Fasilitas ini menjadi bagian dari rantai industri baterai terintegrasi IBC dan mitra CBL.

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan pabrik baterai EV Karawang 6,9 GWh per tahun yang dikembangkan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) telah rampung. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika pada 21 Agustus 2026 mengatakan fasilitas tersebut juga sudah mulai beroperasi secara bertahap sambil menunggu jadwal peresmian.

CATIB merupakan perusahaan patungan yang terkait dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) dan konsorsium CATL-Brunp-Lygend. Pabrik di Karawang ditempatkan sebagai bagian dari rantai industri baterai terintegrasi, dari material aktif hingga sel, modul, dan paket baterai.

Pabrik baterai EV Karawang 6,9 GWh menjadi tahap awal

IBC sebelumnya menjelaskan kapasitas awal fasilitas sel baterai ditetapkan 6,9 GWh pada fase pertama dan direncanakan berkembang hingga total 15 GWh. Kapasitas tersebut ditujukan untuk kebutuhan kendaraan listrik dan aplikasi penyimpanan energi.

Kementerian ESDM saat peletakan dasar ekosistem baterai terintegrasi pada Juni 2025 juga menempatkan fasilitas Karawang dalam proyek yang terhubung dengan kegiatan hulu di Halmahera Timur. Pemerintah saat itu menyebut kapasitas 6,9 GWh sebagai tahap awal menuju 15 GWh. Keterhubungan antartahap ini penting karena nilai tambah industri tidak hanya berasal dari satu pabrik sel, melainkan dari kemampuan menghubungkan bahan baku, material aktif, manufaktur sel, perakitan paket baterai, pemanfaatan domestik, dan pada akhirnya daur ulang.

Rampungnya fasilitas fisik bukan berarti seluruh tantangan industri baterai selesai. Daya saing akan ditentukan oleh tingkat utilisasi pabrik, kepastian permintaan, kualitas sel, biaya energi, pasokan material, penguasaan teknologi, serta kemampuan membangun rantai pemasok lokal.

Dari hilirisasi mineral ke manufaktur teknologi

Nilai strategis proyek baterai terletak pada perpindahan kegiatan ekonomi dari penjualan bahan mentah menuju manufaktur bernilai tambah tinggi. Jika rantai produksi hanya berhenti pada perakitan, dampak teknologi dan produktivitas akan lebih terbatas dibanding jika Indonesia ikut menguasai proses, rekayasa, pengujian, dan pengembangan sumber daya manusia.

IBC juga menempatkan fasilitas Karawang dalam ekosistem yang terhubung dengan produksi material aktif baterai dan fasilitas daur ulang. Integrasi tersebut penting karena biaya, jejak karbon, dan keamanan pasokan bahan baku menjadi faktor penentu dalam industri kendaraan listrik global.

Tahap berikutnya yang perlu dipantau adalah waktu operasi komersial penuh, volume produksi aktual, pelanggan domestik maupun ekspor, dan realisasi ekspansi kapasitas. Angka kapasitas terpasang baru menjadi dampak ekonomi ketika lini produksi digunakan secara berkelanjutan.

SUMBER PRIMER

Sumber primer penting

Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:

REFERENSI & VERIFIKASI

Sumber verifikasi redaksi

Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.