Impor Kendaraan Udara Januari-Juli 2026 Naik 594 Persen, Bahan Baku dan Barang Modal Tetap Dominan
Kementerian Perdagangan mencatat impor kendaraan udara dan bagiannya naik 594,46 persen pada Januari-Juli 2026. Secara keseluruhan, bahan baku/penolong dan barang modal menyumbang 91,33 persen dari impor Indonesia.
JAKARTA — Kementerian Perdagangan mencatat impor kendaraan udara dan bagiannya menjadi kelompok nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi sepanjang Januari-Juli 2026. Nilainya meningkat 594,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di tengah kenaikan total impor Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada Juli 2026 saja, impor tercatat US$26,09 miliar atau tumbuh 27,02 persen secara tahunan.
Bahan baku dan barang modal mendominasi
Kementerian Perdagangan menekankan bahwa kenaikan impor perlu dibaca berdasarkan penggunaannya. Bahan baku dan penolong memiliki pangsa 71,45 persen terhadap total impor Januari-Juli 2026, sedangkan barang modal 19,88 persen dan barang konsumsi 8,67 persen.
Dengan komposisi tersebut, bahan baku/penolong dan barang modal secara gabungan menyumbang 91,33 persen dari total impor. Pemerintah menilai dominasi dua kelompok itu berkaitan dengan kebutuhan kegiatan produksi dan pengadaan barang modal di dalam negeri, sehingga lonjakan impor tidak semata-mata mencerminkan peningkatan konsumsi.
Persentase tidak menunjukkan jumlah pesawat
Angka 594,46 persen merupakan pertumbuhan nilai impor kelompok HS 88, yakni kendaraan udara beserta bagiannya, bukan pertambahan jumlah pesawat. Rilis perdagangan yang menjadi rujukan tidak merinci nilai nominal kelompok tersebut, jenis barang, negara asal khusus HS 88, ataupun berapa unit pesawat yang masuk, sehingga persentase itu tidak dapat dipakai untuk menyimpulkan pertumbuhan armada.
Selain kendaraan udara dan bagiannya, kelompok garam, belerang, batu dan semen meningkat 125,15 persen, sedangkan bijih logam, terak, dan abu naik 66,01 persen pada periode yang sama. Dari sisi negara asal seluruh impor nonmigas, Tiongkok tetap menjadi pemasok terbesar dengan pangsa 42,38 persen.
Di sisi perdagangan keseluruhan, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia Januari-Juli 2026 masih surplus US$3,70 miliar. Surplus nonmigas sebesar US$22,45 miliar masih mampu menutup defisit migas US$18,75 miliar. Pemerintah menyatakan akan menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri, penguatan nilai tambah, dan perluasan pasar ekspor.
Lonjakan persentase impor kendaraan udara juga perlu dibaca bersama nilai nominal dan basis pembanding tahun sebelumnya. Kenaikan ratusan persen dapat terlihat sangat besar ketika nilai awalnya relatif kecil, sehingga komposisi barang dan tujuan penggunaannya lebih penting daripada persentase semata. Bagi perekonomian, impor barang modal dapat mendukung penambahan kapasitas produksi atau layanan, tetapi dampaknya tetap perlu dibandingkan dengan kebutuhan devisa, kemampuan industri domestik, dan manfaat produktif yang dihasilkan.
Sumber primer penting
Dokumen, data, atau keterangan resmi yang menjadi dasar fakta utama artikel ini:
- Kementerian Perdagangan — Ketahanan Ekspor Nonmigas Indonesia Topang Surplus Neraca Perdagangan Juli 2026 — diakses 12 September 2026
- Badan Pusat Statistik — Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026 — diakses 12 September 2026
Sumber verifikasi redaksi
Tautan berikut digunakan redaksi untuk memeriksa fakta, dokumen, pernyataan, dan konteks dalam laporan ini. Referensi disediakan agar pembaca dapat menelusuri dasar informasi yang digunakan.
- Kementerian Perdagangan — Ketahanan Ekspor Nonmigas Indonesia Topang Surplus Neraca Perdagangan Juli 2026 — diakses 12 September 2026
- Badan Pusat Statistik — Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026 — diakses 12 September 2026
- ANTARA — Impor kendaraan udara melonjak 594 persen hingga Juli 2026 — diakses 12 September 2026